Paku di Pagar : Kisah Ayah yang Bijak dan Anak yang Pemarah

Halo, sudah lama nih gak ngeblog. Sebenarnya banyak yang mau ditulis, tapi selalu aja batal dan ujung-ujungnya numpuk di draft hehe. (Sok) sibuk sih yang punya blog ini :s

Well, cerita yang mau di-share ini sebenarnya copas dari internet. Awalnya dapet cerita ini dari PC di Lab Citra, coba-coba googling di internet dan ternyata cerita ini sudah banyak bergelimpangan di google. Karena masih malas buat blogging jadinya copas aja :s Oke, monggo dibaca dan dihayati 🙂

=====

Pernah ada anak lelaki yang mempunyai watak buruk. Anak lelaki ini sangat mudah marah dan melimpahkan kekesalannya pada orang-orang disekitarnya. Menghadapi hal ini, ayahnya memberi dia sekantung penuh paku dan sebuah palu, dan menyuruhnya memaku satu batang paku di pagar pekarangan setiap kali dia kehilangan kesabarannya atau berselisih paham dengan orang lain.

Hari pertama dia memaku tiga puluh tujuh batang di pagar. Pada minggu-minggu berikutnya, dia belajar untuk menahan diri, dan jumlah paku yang dipakainya berkurang dari hari ke hari. Dia mendapatkan bahwa lebih gampang menahan diri daripada memaku di pagar. Akhirnya, tiba hari ketika dia tidak perlu lagi memaku sebatang paku pun dan dengan gembira disampaikannya hal itu kepada ayahnya. Ayahnya kemudian menyuruhnya mencabut sebatang paku dari pagar setiap hari bila dia berhasil menahan diri atau bersabar.

Hari-hari berlalu dan akhirnya tiba harinya dia bisa menyampaikan kepada ayahnya bahwa semua paku sudah tercabut dari pagar. Sang ayah membawa anaknya ke pagar dan berkata,

“Anakku, kamu sudah berlaku baik, tetapi coba lihat betapa banyak lubang yang ada di pagar. Pagar ini tidak akan kembali seperti semula. Kalau kamu berselisih paham atau bertengkar dengan orang lain, hal itu selalu meninggalkan luka seperti pada pagar. Kau bisa menusukkan pisau di punggung dan mencabutnya kembali, tetapi akan meninggalkan luka. Tak peduli berapa kali kau meminta maaf atau menyesal, lukanya tinggal. Luka melalui ucapan sama perihnya seperti luka fisik.”

=====

Ya sebenernya seringkali aku bersifat seperti anak lelaki di atas. Terlalu sering diri ini melukai hati orang lain, terutama hati orang-orang yang mencintaiku. Tapi aku ingin berubah. Berubah jadi lebih baik. Satu hal lagi yang kupelajari, setiap kali kita kesal dan marah lalu mendiamkan orang-orang di sekitar, kita akan kehilangan momen berharga dalam hidup ini. Dan momen berharga tersebut bisa jadi tidak akan terulang lagi.

Semoga yang menulis dan membaca postingan ini bisa mengambil hikmah positifnya dan mampu berubah menjadi individu yang lebih baik lagi. Aamiin.

Salam 🙂

sumber cerita : http://rusdygunawan.blogspot.com/2008/12/paku-di-pagar-arti-seorang-sahabat.html
sumber gambar : http://tings-ok.blogspot.com/2012/05/paku-dan-pagar_22.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s