Innalillahi wainnailaihi roji’un

Assalammualaikum Wr. Wb.

Judul di atas adalah penggalan Al-Quran Surah Al-Baqarah Ayat 156. Isi penuh ayatnya seperti ini :

الذين اذا اصابتهم مصيبة قالوا انا لله وانا اليه راجعون

“(Yaitu) orang-orang yang apabila mereka ditimpa oleh suatu kesusahan, mereka berkata: Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jualah kami kembali.”

Ya. Kalimat “Innalillahi wainnailaihi roji’un” adalah sebuah kalimat yang sering diucapkan seorang muslim jika mendapatkan sebuah musibah, dan kalimat ini cukup sering saya lafadzkan -baik lisan maupun dalam hati saja- hari ini.

. . .

Hari ini, 21 April 2013 bertepatan dengan Hari Kartini, himpunan jurusan tempat saya kuliah (HIMIKA yang kemudian berganti nama menjadi HMIF – Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika) mengadakan agenda kegiatan tahunan mereka yaitu Musyawarah Besar HIMIKA. Saya adalah Ketua Pelaksana acara tersebut. Amanah ini saya dapatkan H-8 sebelum hari H, tepatnya tanggal 13 Aprill 2013. Dengan waktu yang singkat, kami pihak panitia berusaha keras demi keberlangsungan agenda kegiatan tahunan ini. Alhamdulillah, kegiatan Musyawarah Besar HIMIKA berhasil berjalan dengan lancar tanpa hambatan yang berarti. Biarlah Allah yang lebih berhak menilai proses dan hasil pekerjaan kami.

Dan Mubes hari inilah yang sukses membuat saya melafadzkan judul di atas jauuuh lebih sering dari biasanya. Saya terpilih menjadi Ketua Umum HMIF Periode 2013-2014 (Innalillahi wainnailaihi roji’un). Ketika saya medengarkan Presidium Sidang menyebutkan nama saya pada surat ketetapan yang menyatakan Ketua Umum HMIF baru, kalimat Innalillahi wainnailaihi roji’un yang pertama kali terucapkan dalam batin saya. Sampai lebih dari 3 kali, saya melafadzkan kalimat tersebut.

Apakah saya menganggap amanah ini sebagai sebuah musibah? Ya, tapi di satu sisi saya juga menganggap amanah ini sebagai suatu berkah, rezeki dan kesempatan yang diberikan Allah SWT. kepada saya untuk membentuk diri saya menjadi manusia yang lebih bermanfaat bagi sesama.

Menjadi manusia yang lebih bermanfaat bagi sesama.

One does not simply become good leader. Pertanggungjawaban kelak di akhirat sungguh sungguh sangatlah berat. Selain diminta pertanggungjawaban dari anggota tubuhnya, seorang pemimpin juga akan diminta pertanggungjawaban atas orang-orang yang dipimpinnya. Ini berat, kawan. Ini berat. Tapi bukankah tugas manusia adalah menjadi khalifah di bumi ini? Dan baru saja Allah memberikan kesempatan kepada saya untuk mencobanya. Dan saya mengambilnya.

Ini baru permulaan. Ya, saya baru mulai. Saya tidak tahu apa yang himpunan saya akan temui nanti selama kepemimpinan saya. Ini baru mulai. Dengan berserah diri kepada Allah saya akan melangkahkan kaki dan memantapkan hati ke jalan yang lebih baik. Bukankah manusia berencana, Allah yang menentukan? Sebisa mungkin saya akan memberikan yang terbaik dari diri saya, kepada keluarga, almamater, bangsa, negara, dan orang-orang yang saya cintai.

Seperti yang ditulis oleh seorang sahabat : “biarlah post ini menjadi sebuah awal; pembuka gerbang jutaan pengalaman yang saya rasakan“. Ya, biarlah juga postingan ini menjadi saksi betapa lemahnya diri saya. Betapa kecilnya seorang hamba-Nya bernama Arief Rahmansyah. Semoga Allah selalu bersama kita dan menunjukkan kita kepada jalan yang lurus. Aamiin, Allahumma Aamiin.

Wassalammualaikum Wr. Wb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s