Go Library: Bind GraphQL

You have your RESTful API. You have your struct, it use JSON tag. Then, one of your developer friend introduce you to GraphQL. If you want to migrate your API to GraphQL without so much pain, this library is for you.

Easily create new graphql.Object from existing struct with bindgraphql.

Source code: https://github.com/ariefrahmansyah/bindgraphql
Docs: https://godoc.org/github.com/ariefrahmansyah/bindgraphql

Hackathon Merdeka 2.0 Palembang

Baru saja kemarin saya mengikuti Hackathon Merdeka 2.0 bersama dua kakak tingkat saya, Kak Reza dan Kak Faisal. Kami membentuk tim yang bernama Pempek Kerupuk. Nama Pempek Kerupuk dipilih setelah perdebatan yang cukup panjang hahaha 😀

Berbeda dengan Hackathon sebelumnya, Hackathon kali ini diselenggarakan serempak di 28 kota di Indonesia! Euforianya sangat terasa sekali. Begadang ngoding sendirian, udah biasa. Kali ini, kami ngoding bersama ribuan programmer dalam negeri untuk menyelesaikan masalah dalam negeri!

Sesuai dengan tema hackathon kali ini yaitu mengenai masalah data kependudukan, kami membuat solusi aplikasi pengingat kependudukan cerdas yang kami beri nama Lily.

Hackathon Merdeka Palembang. Tim Pempek Kerupuk ngoding di meja khusus (kiri-atas)
Hackathon Merdeka Palembang. Tim Pempek Kerupuk ngoding di meja khusus (kiri-atas)

Continue reading “Hackathon Merdeka 2.0 Palembang”

Cerita – Sidang Tugas Akhir II

Pada jurusan saya, kami harus melewati 3 sidang untuk lulus. Yang pertama adalah Sidang Tugas Akhir I atau sidang proposal, kemudian Sidang Tugas Akhir II atau sidang program, dan yang terakhir Sidang Komprehensif. Saya melaksanakan sidang TA 1 pada bulan Februari lalu. Butuh waktu 8 bulan bagi saya untuk dapat lanjut ke sidang TA 2. Hal ini juga ditanyakan oleh penguji, apa kendalanya kenapa bisa sampai butuh waktu 8 bulan, dan saya jawab karena saya gagal memanajemen waktu saya dan sibuk dengan pengerjaan proyek program lainnya. Juga saya terkendala di bagian dokumentasi dan desain diagram-diagram program saya. Well, saya sangat malas mengerjakan dokumentasi.

Saya juga sudah sangat lama tidak menulis di sini. Hampir setahun. Ini hiatus terparah sejak saya memulai blogging. Sebenarnya banyak yang saya ingin tulis dan ceritakan di sini, namun pada ujungnya saya tidak jadi menulisnya, dan cerita-cerita tersebut akhirnya hanya menjadi draft di otak saya saja. Sudah lama saya ingin menulis lagi, namun karena kesibukan hingga saya tidak sempat menulis di sini. Seharusnya, sesibuk apapun saya, saya harus bisa menyempatkan waktu untuk menulis, namun saya gagal. Ya, manajemen waktu saya sangat berantakan selama ini. Tentang hal ini tidak akan saya tulis di postingan kali ini. Di postingan ini saya akan bercerita tentang Sidang Tugas Akhir II saya.

Continue reading “Cerita – Sidang Tugas Akhir II”

Getting Started: Weka

Weka adalah sebuah perangkat lunak yang memiliki banyak algoritma machine learning untuk keperluan data mining. Weka juga memiliki banyak tools untuk pengolahan data, mulai dari pre-processing, classification, regression, clustering, association rules, dan visualization. Weka adalah perangkat lunak open source berbasis Java dan kita dapat menggunakannya secara langsung atau melalui program Java kita. Weka juga bisa diimplementasikan ke program python. Untuk penjelasan Weka lebih lengkap, kamu bisa membuka halaman dokumentasinya di sini.

Pertama kali saya mengenal Weka ketika mengikuti mata kuliah Information Retrieval, pada pertemuan tentang Clustering. Clustering adalah proses mengelompokkan sekumpulan objek ke kelas-kelas dengan objek yang mirip (Cluster). Clustering adalah salah satu bentuk unsupervised learning. Banyak sekali algoritma untuk clustering, namun secara umum terbagi dua yaitu flat algorithms dan hierarchical algorithms. Pada kuliah tersebut, saya mempelajari tentang algoritma K-means yang merupakan flat algorithms, mulai dari teori K-means hingga implementasinya menggunakan Weka. Pada tulisan ini saya akan berbagi tentang penggunaan Weka untuk aplikasi Simple K-means. Diharapkan teman-teman telah sedikit membaca tentang K-means.

Oh ya, Weka juga dapat diimplementasikan untuk big data!

Instalasi Weka

Kamu bisa mendownload program instalasinya dari sini : http://www.cs.waikato.ac.nz/ml/weka/downloading.html. Sebelum menginstall, cek terlebih dahulu apakah kamu sudah menginstall JRE (Java Runtime Environment). Kamu bisa mengeceknya di folder ini : C:\Program Files\Java. Jika JRE sudah terinstall, kamu cukup mendowload file weka-3-6-11.exe. Jika belum menginstall JRE, kamu harus mendownload file weka-3-6-11jre.exe. Sesuaikan juga file yang didownload dengan tipe sistem operasi kita, apakah 32-bit atau 64-bit.

Setelah berhasil mendownload filenya, jalankan proses instalasi. Ikuti petunjuk instalasi, mudah kok. Setelah selesai, segera buka Weka 🙂

Tampilan Awal Weka
Tampilan awal Weka

Continue reading “Getting Started: Weka”

Tentang Kulminasi

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahas Indonesia), kulminasi adalah :

kul·mi·na·si n 1 puncak tertinggi; tingkatan tertinggi; 2 titik tertinggi yg dicapai suatu benda langit dl peredaran (semunya) mengelilingi bumi (spt matahari mencapai titik kulminasi pukul 12.00);
atas titik tertinggi yg dapat dicapai oleh benda ruang angkasa;
bawah titik terendah yg dapat dicapai oleh benda ruang angkasa

Menurut KHAR (Kamus Hidup Arief Rahmansyah), kulminasi adalah :

kul·mi·na·si n 1 suatu keadaan dimana seorang Arief Rahmansyah berada pada titik jenuh (titik bosan);

Yap, sekarang saya sedang kulminasi.

Pertama kali mendengar istilah kulminasi ketika pelajaran Kimia pas SMA (kalo gak salah sih pas kelas 2, belajar tentang zat-zat gitu.. kalo gak salah :v). Tapi mulai dekatnya dengan si kulminasi setelah kuliah, setelah bertemu dengan Pak A, dosen Teknik Informatika. Beliau menyebutkan bahwa akan ada masa seorang programmer mengalami kulminasi. Kulminasi ngoding. And, he’s right.

Hampir setiap sebulan sekali saya mengalami kulminasi, seperti kulminasi nulis blog (kadang sampe berbulan-bulan), kulminasi ngerjain tugas (jadinya nungguin deadline, bahkan kadang-kadang ‘minta referensi’ dari teman wkwk), dan yang paling sering, yap, kulminasi ngoding. Pada masa kulminasi ngoding, saya males banget ngoding dan bakalan jarang banget nyelesain project kodingan yang gue mulai.

Sebenernya siklus kulminasi gue kayak gini : Semangat ngoding sampe selesai – Kulminasi ngoding – Semangat ngoding sampe selesai – Kulminasi ngoding – Semangat ngoding sampe selesai – (gitu terus muter-muter). Kulminasi ngoding nih bisa dibilang istirahat ngoding. Tapi seringnya pas kulminasi ngoding, gue ikutan males ngerjain hal-hal lain.

Oke, postingan kali ini sangat gaje. Sebenernya mau nulis bagaimana cara menghadapi dan mengalahkan kulminasi, tapi saya sendiri pun masih sulit menghadapi si kulminasi ini. Seringnya sih hilang sendiri hahahahahaa

Sudah ya, saya mau tidur -_-

Doain kulminasi kali ini cepat selesai. Banyak hal yang harus saya kerjakan dan selesaikan.

Students: Ditch Google Docs, and use Office Online for your projects for a happier life

Twenty First Tech (outdated)

Project Work is something very unfortunate that all Junior College students will have to deal with. Last week, a teacher warned her class on the use of Google Docs, speaking of how it would destroy hours of painstaking formatting when converted into a Word document. Everyone just heeded the warning as an inevitable reality of life: That is what happens when you want to collaborate online.

Only it’s not.

You use Microsoft Office for your offline work. But when it comes to projects and online collaborations, you (reluctantly) switch to Google Docs, in favour of the real time collaboration that it offers. Google Docs was never the preferred option; it was just something that people saw as necessary for online work.

View original post 755 more words